Aspek Ilmiah Dan Implementasi Pengendalian Hama Terpadu

September 23, 2008 at 3:00 pm Tinggalkan komentar

Oleh : Soemartono Sosromarsono

Pendahuluan

Judul makalah ini adalah “judul permintaan” dari ketua simposium penerapan PHT, yang disampaikan kepada penulis beberapa waktu yang lalu. Judul itu mengandung pertanyaan seolah-olah PHT mempunyai aspek yang ilmiah dan tidak ilmiah. Semua cara pengendalian atau teknologi pengendalian organisme pengganggu tanaman dasarnya adalah ilmu pengetahuan; pada pengendalian serangga hama terutama adalah biologi dan ekologi organisme itu. Demikian juga PHT. Penggunaan insektisida yang tidak dikendalikan. Setelah dianalisis secara ilmiah maka diketahui sebab musabab pengaruh-pengaruh samping itu (resistensi terhadap insektisida, resurgensi, hama sekunder, pendekatan biologis residu insektisida, dan sebagainya) yang pada umumnya adalah karena proses ekologi atau gangguan terhadap faktor ekologi. Kemudian, muncullah gagasan PHT tersebut.

Kogan (1986) menyatakan bahwa di tahun 50-an dan sebelumnya pengendalian hama pada dasarnya adalah aplikasi preventif pestisida berspektrum luas. Pengetahuan yang mendasari kegiatan itu terutama adalah toksikologi, dan biologi serta ekologi adalah sekunder. PHT sebaliknya, terutama mendasarkan pada pengetahuan biologi dan ekologi. Kogan (1986) menyebut ekologi adalah akar ideologi PHT. Dalam pelaksanaannya PHT adalah ekologi terapan. Apple (1987) menyebutnya juga sebagai pendekatan ekologis dalam pengelolaan agroekosistem.

Agroekosistem, Sistem Kehidupan (Life System) dan PHT

Ekosistem terdiri dari banyak sistem kehidupan (Price, 1975) yang saling berhubungan langsung dan tidak langsung. Istilah sistem kehidupan pertama kali dikemukakan oleh Clark et. Al. (1967). Menurut mereka sistem kehidupan adalah bagian dari ekosistem yang menentukan eksistensi, kelimpahan dan evolusi populasi spesies tertentu. Sistem kehidupan terdiri dari populasi subyek dan lingkungan efektifnya yang mencakup seluruh agensia eksternal yang berpengaruh terhadap populasi itu. Gambar 1 menunjukkan komponen sistem kehidupan.

Dalam agroekosistem terdapat sejumlah sistem kehidupan yang relatif masih besar, meskipun pada umumnya kurang dari yang ada di ekosistem alamiah. Geier (1966 dalam Luckman dan Metcalf, 1982) menyatakan bahwa dalam prakteknya PHT adalah “memutuskan bagaimana sistem hidup hama harus dimodifikasi untuk menekan populasinya sampai pada tingkat yang dapat ditoleransi (ambang ekonomi)”. Memodifikasi sistem kehidupan hama berarti memodifikasi lingkungan efektif dari hama itu. Jadi, faktor-faktor lingkungan hama yang benar-benar berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan populasi perlu diketahui lebih dahulu, dengan kata lain biologi dan ekologi hama harus diketahui dengan baik. Masalahnya menjadi lebih kompleks karena faktor-faktorn efektif hama yang berupa faktor biotik masing-masing mempunyai sistem kehidupan sendiri. Lingkungan efektif suatu hama terutama adalah faktor makanan, faktor biotik dan faktor fisik. Dengan demikian, memodifikasi sistem kehidupan hama itu adalah memanipulasi salah satu, beberapa atau semua faktor tersebut. Untuk itu diperlukan pengetahuan ekologi dari masing-masing faktor (tanaman dan faktor biotik).

Hal lain lagi yang perlu diperhatikan adalah dimana batas agroekosistem, karena akan menyangkut modifikasi sistem kehidupan hama. Andaikan faktor yang dimodifikasi itu adalah parasitoid, kehidupan dan daya bertahan hidup musuh alami itu mungkin menyangkut juga vegetasi dan inang alternatif di luar lahan pertanian yang ditanami. Dalam keadaan ini maka vegetasi tersebut termasuk dalam batas agroekosistem dan dalam rangka PHT perlu dikelola juga.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimana kedudukan insektisida dalam kaitannya dengan memodifikasi sistem kehidupan hama. Insektisida sebenarnya adalah faktor eksternal yang tidak alamiah. Jika memodifikasi faktor biotik pada suatu saat tidak mampu menahan populasi di bawah ambang ekonomi, insektisida itu harus yang cukup selektif, tidak mengganggu faktor biotik hama atau organisme lain. Perlu diingat bahwa salah satu tujuan PHT adalah lingkungan hidp yang sehat.

Implementasi PHT

Ruesink (1982) menyatakan bahwa PHT adalah kombinasi dari berbagai proses yang mencakup pengambilan keputusan, melakukan tindakan terhadap hama dan mendapatkan informasi untuk menentukan pengembilan keputusan tersebut. Gambar 2 menunjukkan diagram operasi PHT di tingkat petani. Tindakan yang diambil adalah berdasarkan keputusan pribadi petani dan didasarkan pada rekomendasi yang didapat dari algoritam rekomendasi (algoritme = aturan yang menyatakan cara untuk mendapatkan keluaran (output) informasi spesifik dari masukan (input) informasi tertentu melalui sejumlah langkah). Dalam PHT keluaran itu adalah saran pengendalian tindakan tertentu sedang masukannya adalah berbagai informasi yang diterima dari sumber-sumber tertentu. Sebagai terlihat di gambar dari agroekosistem didapat informasi mengenai keadaan tanaman, populasi hama dan musuh alami, mungkin juga faktor yang menekan tanaman seperti gulma dan keadaan air tanah. Informasi cuaca adalah keadaan cuaca pada waktu itu dan mungkin ramalan cuaca. Dari dunia bisnis didapatkan informasi harga komoditi dan biaya pengendalian yang akan dilakukan.

Ruesink (1982) menyatakan pula bahwa diagram itu berlaku untuk semua sistem PHT, apapun bentuk algoritmenya. Dalam sistem yang paling sederhana petani adalah algoritme sendiri yaitu ia menggunakan intuisinya dan pengalamannya untuk menimbang keuntungan yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan. Keluaran adalah rekomendasi untuk dirinya sendiri tentang apa yang harus dilakukan. Dalam sistem yang lebih maju seorang yang terlatih (penyuluh spesialis) mengganti kedudukan petani, atau ia membuat dan menerbitkan penuntun yang dapat digunakan oleh petani. Dalam sistem yang lebih maju lagi algoritme itu berbentuk suatu model matematik atau model komputer. Informasi dari agroekosistem, informasi cuaca dan bisnis dimasukkan ke dalam model itu, yang dalam waktu singkat dapat menghasilkan rekomendasi yang diperlukan. Rekomendasi itu mungkin berbunyi “Tidak mengambil tindakan”. Perlu diketahui bahwa dalam diagram itu tidak terlihat adanya perhatian faktor/keadaan sosial dan lingkungan hidup. Ruesink (1982) mneya bahwa faktor itu sudah diperhitungkan dalam algoritme.

Apa yang kini dilaksanakan dalam SLPHT sebenarnya adalah melatih petani supaya ia mampu menjadi algoritme sendiri yang baik berdasarkan informasi yang diperoleh sendiri. Petani itu harus memantau pertanaman untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan pertanaman, hama dan musuh alami. Ia harus memperhatikan keadaan cuaca dan musim serta faktor ekonomi. Kemudian ia mengambil keputusan berdasarkan masukan informasi tersebut.

Penutup

Dari uraian yang lalu yang membahas PHT melalui pendekatan sistem kehidupan, jelas bahwa PHT mempunyai dasar ilmiah yang shahih.

Pengetahuan mengenai sistem kehidupan dari komponen-komponen agroekosistem yang penting dari segi masalah hama merupakan dasar yang paling sederhana untuk pengelolaan agroekosistem itu dalam rangka PHT.

SLPHT yang kini sedang dilaksanakan dan dikembangkan di Sumatera, Jawa, Bali dan Sulawesi adal cara yang baik untuk melatih petani sehingga mampu mengambil keputusan pengendalian berdasarkan informasi yang didapat dari pertanamannya.

[]

Entry filed under: PERTANIAN. Tags: .

Angke dan Code, Varietas Unggul Padi Tahan Hawar Daun Bakteri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2008
S S R K J S M
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: