IMPLEMENTASI PENGELOLAAN SERANGGA SECARA BERKELANJUTAN

September 28, 2008 at 8:14 pm Tinggalkan komentar

ABSTRAK

Dalam menghadapi era pasar bebas pada tahun 2003, produk pertanian dan perkebunan akan mempunyai daya saing kuat apabila diproduksi dengan proses yang ramah lingkungan. Prinsip-prinsip teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) dapat dikatagorikan sebagai bagian dari sistem usaha tani secara berkelanjutan, karena mempunyai sasaran untuk mengembangkan potensi sumberdaya manusia (SDM) dan menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, penerapan PHT merupakan suatu upaya yang paling tepat dalam pengelolaan serangga secara berkelanjutan. Penerapan dan pengembangan PHT melalui penyelenggaraan Sekolah Lapangan PHT (SLPHT) dalam rangka Program Nasional PHT pada tanaman pangan (padi, palawija dan sayuran) yang telah dimulai sejak tahun 1989 terbukti dapat memberikan keuntungan secara ekologis dan efisiensi ekonomi. Dalam kaitan ini, penerapan PHT juga merupakan upaya manusia untuk “Hidup berdampingan secara damai” dengan serangga.

PENDAHULUAN

Dalam menghadapi tantangan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN (AFTA) pada tahun 2003. Asia Pasifik (APEC) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2010, sektor pertanian dihadapakan pada kondisi yang kurang mendukung, yaitu (1) Kemampuan sumberdaya manusia yang relatif rendah, (2) Lahan serta sarana dan prasarana pertanian yang semakin langka, (3) Tingginya biaya investasi pertanian di lahan baru. Aktivitas sektor pertanian yang dilakukan oleh penduduk dan terkonsentrasi pada wilayah-wilayah padat populasi, yang sebagian besar dilakukan secara tidak ramah lingkungan karena tekanan ekonomi, telah menyebabkan berbagai kerusakan sumberdaya pertanian (Rasahan, 1996). Hal ini terlihat pada banyak wilayah yang kurang subur dengan kondisi yang tidak stabil, khususnya pada daerah yang kering dan lahan pasang surut.

Pasar internasional telah mensyaratkan “Label Ekologi (Ecolabelling)” untuk berbagai jenis komoditas yang harus diproduksi dengan proses ramah lingkungan. Produk tersebut dinamakan produk yang “Eko Efisien atau Produk Bersih” (Untung, 1996). Dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan, KTT Bumi di Rio De Janeiro, Brasil pada tahun 1992 telah menetapkan agenda 21. dalam Agenda 21, bagian II bab 14 dari “Promoting Sustainable Agriculture and Rural Development” disebutkan ada 12 program pertanian berkelanjutan yang harus diterapkan oleh setiap negara. Salah satu program yang penting yaitu pengelolaan dan pengendalian hama terpadu (PHT) dalam bidang pertanian (butir i). Dengan demikian penerapan PHT merupakan satu bagian yang penting dari sistem usaha tani berkelanjutan.

Beberapa prinsip teknologi PHT yang dapat dikatagorikan sebagai bagian dari sistem usaha tani yang berkelanjutan adalah sebagai berikut (Untung, 1995):
(1) Pengelolaan ekosistem pertanian dengan perpaduan optimal tehnik-tehnik pengendalian hama dan meminimalkan penggunaan pestisida sistemik yang berspektrum luas
(2) Promosi dan dukungan pengendalian hayati yang dapat menekan populasi hama sampai pada aras keseimbangan
(3) Kegiatan-kegiatan lapangan PHT seperti pemantauan, analisis ekosistem, pengambilan keputusan dan interval pengendalian hama
(4) Teknologi PHT harus bersifat spesifik lokasi dan sesuai dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat
(5) Teknologi PHT adalah praktis, mudah dipelajari dan diadopsi oleh petani yang kemungkinan kondisi lapangannya berbeda-beda

Lingkungan yang seimbang, selaras dan serasi adalah lingkungan yang lengkap sehingga rantai makan tersambung, fungsi lingkungan berjalan dan bahan-bahan organik yang tidak terpakai dapat terurai. Serangga merupakan salah satu komponen lingkungan yang seringkali memdapat perlakuan yang kurang wajar. Umumnya pemahaman masyarakat mengenai serangga masih bersifat negatif, yaitu sebagai musuh manusia, karena sebagai hama dan vektor penyakit yang membahayakan, padahal serangga sebenarnya mempunyai berbagai peran yang menguntungkan dari segi ekonomi, sehingga perlu dijaga kelestariannya (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan PEI, 1994). Akibat dari pemahaman dan anggapan yang keliru terhadap serangga tersebut timbullah konsep pengendalian hama atau OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) secara konvensional, yaitu cara pengendalian hama yang lebih menekankan pada penggunaan pestisida. Konsep pengendalian atau pengelolaan hama yang benar dan tepat adalah PHT, karena PHT menganggap serangga sebagai bagian atau komponen dari ekosistem.

Makalah ini mencoba membahas secara ringkas penerapan dan pengembangan PHT dalam hubungannya dengan implementasi pengelolaan serangga secara berkelanjutan. Diharapkan bahwa dengan penerapan dan pengembangan PHT, kita dapat “hidup berdampingan” dengan serangga.

KONSEP PENGENDALIAN/PENGELOLAAN HAMA

Pertanian dan Hama Pertanian

Penggunaan lahan pertanian dan fungsi usaha tani berbeda-beda sehingga tidak mungkin menghubungkan kehilangan hasil karena serangga hama menjadi satu konsep umum kehilangan hasil (de Wilde, 1982). Luas pemilikan lahan dapat mempengaruhi arti kehilangan hasil suatu komoditas. Sebagai contoh, kehilangan hasil pertanian sebesar 20% pada petani yang hanya memiliki pertanaman seluas 0,2 hektar mempunyai arti ekonomi yang lebih besar daripda pertani yang luas pertanamannya 50 hektar. Sikap petani dalam pengendalian hama pada umumnya tergantung pada keadaan sosial ekonominya. Bagi petani kecil, pengendalian hama dengan insektisida sebenarnya kurang menguntungkan, sehingga harus merupakan alternatif terakhir (Brader, 1982). Menurut de Wilde (1982) dalam hendak mengendalikan hama ada tiga dalil yang perlu diingat, yaitu (1) suatu spesies serangga tidak pernah menjadi hama tetapi beberapa populasinya dapat berstatus hama, (2) status hama suatu spesies serangga tergantung pada dua faktor: (a) jenis tanaman inangnya, (b) peningkatan populasinya diatas ambang toleransi kritisnya, (3) masalah serangga hama selalu disebabkan karena ulah manusia. Seringkali perubahan fisiologi tanaman karena “pemuliaan” dan perubahan cara-cara bercocok tanam mengakibatkan fenomena biologik. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan pemikiran biologik, bukan secara teknologik (pestisida).

Konsep Pengendalian Hama secara Konvensional

Kenyatan menunjukkan bahwa tindakan pengendalian hama yang menggunakan satu taktik saja tidak dapat memberikan hasil pengendalian yang efektif. Namun sebaliknya seringkali menimbulkan berbagai masalah karena petani hanya mengandalkan pada satu taktik pengendalian hama. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengendalian hama yang sifatnya sefihak khususnya pengendalian secara kimiawi saja (pengendalian hama secara konvensional) bukanlah cara pendekatan yang baik dan benar. Terbukti bahwa efektivitas dan efisiensi pestisida dalam mengendalikan hama semakin lama semakin menurun, bahkan timbul berbagai masalah baru yang lebih sulit untuk dipecahkan.

Ciri-ciri pengendalian hama secara konvensional adalah sebagai berikut (Sastrosiswojo dan Untung, 1994):

1) Tujuan pengendalian hama adalah untuk memberantas dan memusnahkan hama semaksimal mungkin agar program peningkatan produksi tanaman tidak terganggu
2) Usaha pemberantasan hama yang paling baik adalah dengan melindungi tanaman dengan bahan kimia yang beracun (pestisida) agar hama tidak mampu menyerang tanaman. Asas preventif ini dilaksanakan dengan program penyemprotan pestisida berjadwal (sistem kalender)
3) Karena sasarannya adalah pemberantasan dan pelaksanaannya mengikuti asas preventif, maka ketergantungan terhadap pestisida organik sintetik berspektrum lebar menjadi semakin besar
4) Alternatif pemberantasan hama bukan antara satu tehnik pengendalian dengan tehnik pengendalian lainnya tetapi antara jenis pestisida yang satu dengan jenis yang lain. Selain itu, kriteria kebaikan suatu cara pemberantasan yaitu jenis pestisida yang memberikan hasil yang efektif (cepat dan banyak membunuh hama), caranya mudah serta harganya terjangkau.
5) Pengambilan keputusan pelaksanaan pengendalian tidak dilakukan atas pengamatan dan keadaan lapangan (ekosistem) tetapi atas dasar jadwal yang telah ditentukan yang merupakan paket teknologi budidaya tanaman yang direkomendasikan. Keadaan ekosistem termasuk populasi hama, populasi musuh alami, keadaan tanaman, dan keadaan cuaca kurang menjadi pertimbangan dalam memutuskan penggunaan pestisida. Demikian juga kelayakan sosial ekonomi kurang dijadikan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan pengendalian hama.
6) Program pengendalian hama dan budidaya tanaman pada umumnya kurang dilandasi oleh pengetahuan dan ketrampilan yang cukup tentang tanaman, ekosistem dan prinsip budidaya tanaman yang bernalar. Petani lebih mengandalkan diri pada intuisi mereka, hasil empirik atau yang berasal dari sumber-sumber lain yang kurang tepat dan mempunyai kondisi yang sama dengan mereka.
7) Teknologi pengendalian hama diterapkan secara seragam baik secara spasial (antar tempat) maupun temporal (antar waktu) oleh pelaksana pengendalian (petani atau perusahaan pertanian/perkebunan) dan tidak disesuaikan dengan keadaan ekosistem serta kemampuan sosial ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diikuti untuk mempermudah perencanaan dan koordinasi serta pengawasan pelaksanaan pengendalian hama.
8) Program pengendalian hama dan perlindungan tanaman pada umumnya masih dianggap sebagai suatu bagian yang mandiri dari program produksi tanaman guna mencapai sasaran peningkatan produksi dan penghasilan petani. Pendekatan fragmental menurut sektor atau bidang pembangunan serta menurut bidang disiplin ilmu seakan-akan menganggap timbul dan berkurangnya serangan hama merupakan peristiwa yang mandiri sendiri dan penanggulangannya dianggap merupakan urusan dan tanggungjawab para pemberi keputusan/petugas lapangan/pakar perlindungan tanaman.

Konsep Pengendalian Hama Terpadu

Konsep pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan suatu pemikiran atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama secara konvensional yang sangat tergantung pada penggunaan pestisida. Konsep PHT timbul dan berkembang di seluruh duia karena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup. Kesadaran global akan pentingnya kualitas lingkungan hidup sebagai bagian dari pemenuhan kesejahteraan hidup telah mendesak akan perlunya diakannya perubahan mendasar tentang berbagai penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida.

Apabila penggunaan pestisida harus dikurangi maka masalah yang kemudian muncul dan dihadapi petani adalah bagaimana cara penggunaan pestisida dapat dikurangi tetapi kehilangan hasil atau kerugian hasil akibat serangan hama dapat dihindari. Konsep PHT merupakan alternatif yang tepat untuk menjawab dilema tersebut, karena PHT bertujuan membatasi penggunaan pestisida sesedikit mungkin tetapi sasaran kualitas dan kuantitas produksi pertanian masih dapat dicapai. Karena itu konsep PHT tersebut secara global telah memperoleh penerimaan dan tanggapan yang positif dari para pengambil keputusan, para petani dan para konsumen produk pertanian di seluruh dunia yang merindukan bahan makanan yang bebas residu pestisida.

Prinsip Pengendalian`Hama Terpadu

Prinsip-prinsip PHT adalah sebagai berikut (Sastrosiswojo dan Untung, 1994):
(1) Pengendalian hama merupakan bagian, komponen atau subsistem dari sistem pengelolaan agroekosistem. Dengan demikian pengendalian hama harus diterapkan dalam kerangka budidaya tanaman dan usaha tani secara keseluruhan. Pendekatannya bersifat terpadu antar sektor dan antar disiplin ilmu tanpa mengutamakan salah satu sektor/disiplin ilmu tertentu. Pengendalian hama harus mencakup seluruh gatra pengelolaan ekosistem pertanian termasuk gatra teknis, ekologi, ekonomi, politik dan sosial budaya.
(2) Pengendalian hama harus dilakukan dengan melandasi pada prinsip pembangunan pertanian berkelanjutan. Ini berarti bahwa praktek pengendalian hama jangan sampai menurunkan daya dukung dan kelestarian lingkungan hidup. Sifat pembangunan pertanian berkelanjutan adalah : (1) layak lingkungan; (2) produktif; (3) layak ekonomi; (4) secara sosial budaya dapat diterima dan diinginkan, dan (5) secara teknis dapat dilaksanakan oleh petani.
(3) Strategi pengelolaan agroekosistem berkelanjutan antara lain:
a. Integrasi proses alami dalam proses produksi
b. Pengurangan masukan produksi yang membahayakan
c. Manfaat potensi hayati dan genetik tanaman dan binatang
d. Penyesuaian pola tanam, potensi produksi dan keterbatasan lahan untuk menjamin keberlanjutan produksi
e. Penekanan pada pengolaan usahatani yang tepat serta konservasi tanah, air, energi dan sumber daya hayati.
(4) Oleh karena itu konsep pengendalian hama terpadu (PHT) atau IPM (Intergrated Pest Management)
(5) Dalam kerangka berfikir diatas maka tujuan PHT tidak hanya tujuan pengendalian hama saja tetapi mempunyai tujuan komprehensif yaitu:
a. Produksi pertanian mantap tinggi
b. Peningkatan penghasilan dan kesejahteraan petani
c. Mempertahankan populasi hama dalam keadaan seimbang di bawah ambang kerusakan atau ambang ekonomi
d. Mempertahankan keanekaragaman hayati
e. Pembatasan penggunaan pestisida sintetik organik
f. Mengurangi resiko keracunan pada manusia (pekerja dan konsumen), hewan dan ternak serta binatang berguna lainnya (serangga penyerbuk, musuh alami, dan lain-lain)
g. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk

PENDEKATAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU

1. Pengertian, Strategi dan Teknologi PHT

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan, cara berfikir atau falsafah pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang bertanggungjawab (Untung, 1993b)

Seperti yang kita ketahui saat ini, pengendalian hama terpadu (PHT) adalah bukan suatu cara pengendalian hama/penyakit. PHT adalah suatu konsep atau suatu pandangan, suatu pendekatan, suatu program dan suatu strategi. Bahkan PHT dikatakan juga sebagai suatu filosofi. Konsep PHT berusahan untuk mendorong, mengkombinasikan dan memadukan beberapa macam faktor pengendalian untuk menekan populasi hama dan memperkecil kerusakan tanaman karena serangan hama. Secara prinsip, konsep PHT berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang sangat tergantung pada penggunaan pestisida. Namun demikian PHT bukanlah suatu konsep yang anti penggunaan pestisida, apabila memang benar-benar tidak mengganggu faktor pengendalian lainnya atau interaksinya. Dengan kata lain, dalam konsep PHT pestisida masih diperlukan tetapi sangat selektif.

Sasaran PHT yaitu (1) produktivitas pertanian tinggi, (2) kesejahteraan petani meningkat, (3) populasi hama dan kerusakan yang ditimbulkannya tetap berada pada aras yang secara ekonomi tidak merugikan, (4) kualitas dan keseimbangan lingkungan terjamin dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Strategi PHT yang diterapkan adalah memadukan semua tehnik atau metode pengendalian hama secara optimal baik secara ekologis maupun ekonomis.

Penerapan dan pengembangan PHT pada suatu jenis tanaman tertentu di suatu daerah perlu didukung dengan pengembangan tiga program utama yaitu (Untung, 1993a): (1) teknologi PHT, (2) Jalinan informasi, (3) Proses pembuatan keputusan.

Teknologi PHT merupakan tehnik yang diterapkan untuk mengelola agroekosistem agar sasaran PHT tercapai dengan memperhatikan berbagai kendala yang ada di ekosistem dan sistem sosial-ekonomi setempat. Teknologi PHT mencakup: (a) teknologi pengendalian, (b) Teknologi Informasi, dan (c) Teknologi pengambilan keputusan. Banyak teknologi, komponen, taktik atau cara pengendalian hama yang tersedia untuk digunakan dalam PHT. Sebagian teknologi pengendalian tersebut telah lama diketahui dan digunakan, akan tetapi ada juga yang relatif baru.semua teknologi pengendalian tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut yang ditujukan kepada penyempurnaan dan perpaduannya dalam sistem PHT.

Teknologi pengendalian yang ada sekarang ini dapat dikelompokkan menjadi 7 macam (Luckman dan Metcalf, 1982), yaitu: (1) pengelolaan ekosistem dengan cara bercocok tanam, (2) pengendalian hayati, (3) pengendalian secara mekanik, (4) pengendalian secara fisik, (5) pengendalian secara genetik, (6) penggunaan pestisida secara selektif, (7) dengan peraturan.

Prinsip-Prinsip Dasar PHT

PHT bukan tujuan, melainkan suatu metode ilmiah untuk mencapai tujuan yaitu mengendalikan hama agar secara ekonomis tidak merugikan, mempertahankan kelestarian lingkungan dan menguntungkan petani (Oka, 1992). Untuk mencapai tujuan tersebut, ada empat prinsip dasar PHT yang perlu dilaksanakan sebagai berikut:

(1) Tanaman Budidaya yang Sehat
Sasaran pengelolaan agroekosistem adalah produktivitas tanaman budidaya. Pengelolaan tanaman yang optimal dan kalau memungkinkan penggunaan varietas yang taham lama adalah dasar bagi pencapaian hasil produksi yang tinggi. Tanaman budidaya yang sehat dan kuat merupakan bagian yang penting dalam program pengendalian hama.

(2) Melestarikan dan Mendayagunakan Fungsi Musuh-Musuh Alami
Musuh-musuh alami mempunyai peranan yang penting dalam penekanan populasi hama dan menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu musuh-musuh alami yang ada perlu dijaga kelestariannya. Selain itu upaya untuk meningkatkan peranan musuh-musuh alami dalam pengendalian hama juga perlu dilakukan

(3) Pemantauan Lahan secara Mingguan atau Rutin
Masalah hama timbul karena kombinasi faktor-faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan/perkembangan hama. Oleh karena itu pemantauan lahan pertanaman secara mingguan atau rutin perlu dilakukan untuk mengkaji masalah hama yang mungkin timbul dari keadaan ekosistem lahan yang cenderung berubah dan terus berkembang.

(4) Membina Petani sebagai Pakar PHT
Petani sebagai manajer usahatani bukanlah “Obyek” melainkan “Subyek” pelaksana PHT. Oleh karena itu para petani perlu dilatih untuk menjadi pengamat, penganalisis ekosistem, pengambil keputusan sekaligus juga sebagai pelaksana pengendalian hama di lahan pertaniannya sendiri secara mandiri dan secara bersama dengan anggota kelompok petani lainnya.

PROGRAM NASIONAL PHT

Dari segi perlindungan tanaman, upaya untuk meningkatkan daya saing produk pertanian dan perkebunan hanya dapat dicapai melalui pelaksanaan program nasional PHT. Program Nasional PHT pada tanaman pangan (padi dan palawija) sudah dilaksanakan mulai tahun 1989. Bahkan untuk tanaman sayuran mulai tahun 1992 dengan dukungan dana “hibah (grant)” dari UNDP (1989-1993) dan dikoordinasikan oleh BAPPENAS. Sejak tahun 1994 s/d 1998, program tersebut dilanjutkan dengan dukungan dana “Loan” dari Bank Dunia dan dikoordinasikan oleh Departemen Pertanian. Program Nasional PHT pada tanaman perkebunan mulai dilaksanakan pada bulan April 1997 selama tujuh tahun dengan dukungan dana dari ADB.

Program Nasional PHT pada tanaman pangan (padi, palawija dan sayuran) menerapkan program pokok sebagai berikut:

1. Pengembangan teknologi PHT melalui kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi ekosistem dan dapat digunakan atau diterapkan oleh petani
2. Pengembangan kualitas dan kuantitas SDM (Sumber Daya Manusia) khususnya PHT, PPL dan petani melalui program pelatihan
3. Kelembagaan yang mendukung penerapan dan pengembangan PHT. Kelembagaan di lingkungan instansi pemerintah (pusat dan daerah) dan kelembagaan di lingkungan masyarakat (petani, kelompok tani, SLM dan lain-lain)

Tujuan Program Nasional PHT

Pemerintah memberikan dukungan atau komitmen yang kuat terhadap PHT. Sebagai tindak lanjut Keppres No. 3/1986 yang melarang penggunaan 57 jenis pestisida. Dilaksanakan Program Nasional PHT padahal (mulai tahun 1989). PHT Palawija (tahun 1990) dan PHT Sayuran (Januari tahun 1992). Pengelolaan Program Nasional PHT pada fase I (1989-1993) dikoordinasikan oleh Bappenas, dengan tujuan utama: (1) menjaga stabilitas produksi beras agar tetap swasembada; dan (2) pengembangan sumberdaya manusia dengan pelatihan PHT bagi petugas lapangan (PHP, PPL) dan petani

Pada fase II (1994-1998) Program Nasional PHT dikoordinasikan oleh Departemen Pertanian dengan tujuan utama:
(1) Melembagakan PHT di tingkat petani dengan melatih 800.000 petani melalui SLPHT, 520 PHP sebagai Pemandu Lapangan (PL). 1.100 PPL dan 25.000 Petani Pemandu SLPHT (petani ke petani)
(2) Memperkuat kebijaksanaan pengaturan dan pengelolaan lingkungan pestisida
(3) Memperkuat sistem informasi manajemen (SIM)
(4) Melaksanakan penelitian pendukung PHT
(5) Pemasyarakatan PHT

Strategi Pelatihan PHT

Komponen utama Program Nasional PHT yang penting adalah upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia pengamat hama dan penyakit (PHP) yang akan menjadi pemandu lapang (PL) dibantu oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan terutama para petani, diberi latihan praktek PHT secara intensif selama 500 jam untuk PHP dan lebih dari 50 jam untuk petani.

Tujuan pelatihan adalah meningkatkan kemampuan mereka untuk mengambil keputusan sendiri dalam mengatasi masalah hama di lahan mereka berdasarkan prinsip-prinsip PHT yaitu (1) Budidaya tanaman yang sehat, (2) Pemanfaatan dan pelestarian musuh-musuh alami, (3) Pemantauan pertanaman tiap minggu atau secara rutin, dan (4) Membina petani sebagai pakar PHT. Metode pelatihan ini yang dinamakan Sekolah Lapangan PHT (SL-PHT) mula-mula dipandu oleh Pemandu Lapangan (PL), kemudian dilaksanakan oleh petani sendiri (Petani Pemandu).

Biasanya tiap SLPHT mempunyai anggota 25 orang petani. Selama mengikuti SLPHT, petani dilatih: (1) Mendiagnosis masalah-masalah di lapangan secara akurat termasuk pengenalan gejala awal; (2) Menganalisis ekosistem terhadap data yang telah dikumpulkan dan menetapkan penyebab timbulnya masalah; dan (3) Mengambil keputusan tindakan pengendalian yang diperlukan.

Pendekatan pelatihan menggunakan metode “belajar dari pengalaman” yang dilaksanakan di lapangan (lahan pertanaman). Kepada para peserta pelatihan ditunjukkan realitas sebenarnya pada yang terjadi di lapangan. Diskusi diantaranya peserta dibuat santai (informal) dan peran PL hanya sebagai fasilitator, motivator atau narasumber. Bagian yang terpenting dari diskusi adalah analisis agroekosistem dan pengambilan keputusan.

Peran Petani dalam Penerapan PHT

“PHT timbul dari petani, oleh petani dan untuk petani”. Ini berarti bahwa petani mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan dan implementasi PHT. Oleh karena itu perilakuk petani harus dirubah dari “Petani Konvensional” menjadi “Pakar PHT” atau “Manajer PHT”. Seorang petani harus menjadi ”Manajer” yang mandiri dan profesional dalam usahataninya. Karena sebagian besar petani kita adalah petani kecil, mereka harus bekerja sama di dalam kelompok (kelompok tani) untuk dapat mengembangkan dan menerapkan PHT. Seorang petani PHT atau kelompok tani PHT harus memiliki perilaku atau sifat-sifat yang berbeda dan petani konvensional sebagai berikut (Untung, 1993b):

(1) Sebagai seorang manajer dan pengambil keputusan untuk usahataninya, seorang petani PHT harus mampu mengambil keputusan yang tepat secara mandiri dan profesional
(2) Seorang petani PHT harus menjadi “Pakar” yang mampu menggunakan beberapa taktik pengendalian hama sesuai dengan prinsip-prinsip PHT
(3) Seorang petani PHT harus responsif dan perseptif dalam menerima teknologi PHT yang baru
(4) Individu petani harus mampu bekerja sama dengan petani lainnya dari kelompok tani yang sama atau dari kelompok tani lainnya dalam pengembangan dan penerapan PHT

Berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas, seorang petani akan menjadi “pakar PHT” apabila ia dilatih secara intensif dalam Sekolah Lapangan PHT (SLPHT).

Hasil-Hasil Sementara

Hasil-hasil yang telah dicapai oleh Program Nasional PHT secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut (Oka, 1995; Sastrosiswojo, 1994; Proyek PHT, 1997):

1. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)
(Terlatih PHT sampai dengan Februari 1997)
a. PHP : 506 (padi) + 116 (sayuran) = 622 orang
b. PPL : 1.012 (padi) + 185 (sayuran) = 1.197 orang
c. Petani Pemandu (PHT Padi) = 14.042 orang
d. Petani SLPHT = 399.477 (padi) + 12.290 (sayuran) = 411.767 orang
2. Pengurangan rata-rata penggunaan pestisida
a. PHT – Padi : 60%
b. PHT – Kubis :
i. Insektisida : 81%
ii. Fungisida : 96%
c. PHT – Kentang:
i. Insektisida : 89%
ii. Fungisida : 81%
3. Peningkatan hasil panen sayuran (tahun 1994)
a. PHT – Kubis : 7.6 %
b. PHT – Kentang : 24.4 %
4. Peningkatan keuntungan bersih sayuran (tahun 1994)
a. PHT – Kubis : Rp. 2.796.000,-/ha
b. PHT – Kentang : Rp. 1.889.000,-/ha

PENUTUP

Berbagai kerusakan sumbersaya pertanian telah terjadi karena kegiatan sektor pertanian yang dilakukan secara tidak ramah lingkungan. Untuk meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar internasional, komoditi pertanian harus dihasilkan dengan proses yang ramah lingkungan.

Pengendalian (Pengelolaan) Hama Terpadu (PHT) merupakan bagian dari sistem usahatani yang berkelanjutan. Di dalam PHT, serangga tidak dianggap sebagai musuh manusia, melainkan sebagai bagian dari ekosistem, sehingga harus ditoleransi keberadaannya. Berbeda dengan pengendalian hama secara konvensional, pengelolaan serangga dalam sistem PHT mendasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi.

Penerapan dan pengembangan PHT di Indonesia telah dilaksanakan melalui penyelenggaraan Program Nasional PHT pada tanaman padi (tahun 1989), Palawija (1990), Sayuran (tahun 1992) dan Perkebunan (1997). Tiga program pokok dari Program Nasional PHT yaitu: (1) Pengembangan teknologi PHT melalui kegiatan penelitian; (2) Pengembangan kualitas dan kuantitas SDM melalui pelatihan petugas lapangan dan Sekolah Lapangan PHT; dan (3) Kelembagaan yang mendukung penerapan dan pengembangan PHT.

Penerapan dan pengembangan PHT melalui pelaksanaan Program Nasional PHT telah terbukti memberikan beberapa keuntungan, yaitu: (1) Meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan SDM, khususnya bagi petugas lapangan dan petani, (2) penghematan penggunaan pestisida yang sangat banyak, (3) Meningkatkan pendapatan petani, (4) Meningkatkan mutu produk pertanian sehingga meningkatkan daya saingnya di pasar lokal dan internasional.

Selain itu penerapan teknologi PHT secara tidak langsung juga merupakan upaya untuk hidup berdampingan secara damai dengan serangga.

[end, 11 september 2008]

Entry filed under: PERTANIAN. Tags: .

BAWANG DAUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2008
S S R K J S M
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: